Minggu, 07 Oktober 2012

Selasa, 16 Agustus 2011

Rabu, 29 Desember 2010


Esok Jika Aku Digantung Mega vristian(Hongkong)

Puisi Mega V

Anakku yang kutahu ibu hapal rasa getir kehidupan Karena terlahir miskin hingga tak bisa menyusun kata-kata untuk membela diri dalam kalimat canggih untuk kenal ayat-ayat hukum tapi paham perbedaan hitam putih benar dan salah warna-warna dasar menurut nurani tapi benar memang benar di manapun nurani hari ini selalu tersingkir seperti orang-orang miskin

kaum elite presiden menteri direktur jenderal dan intelektual di menara di gedung-gedung sekalipun bergelar doktor tak paham bahasa kromo sederhanaku mereka punya bahasa sendiri ibu buruh perempuan terlalu awam kupaham lalu di satu negeripun orang bicara berbagai bahasa tak saling mengerti bahkan pura-pura tak mengerti tapi lancar bicara ketika mereka berdebat memperjualkan manusia

maut menantiku di tali gantungan di jari uang berkuasa makhluk asing terlalu asing bahasa hati tapi dunia digenggam mereka mengancam manusia di mata mereka manusia itu barang dagangan yang kalah hanya pantas jadi budak di mata mereka melawan sama dengan kejahatan melanggar yang disebut hukum

maka semestinyalah aku harus bisa belajar kalah sebelum mengacungkan tantangan memulai pemberontakan membela nurani dan hakekat kebenaran demi tegakkan keadilan

esok kalau aku dibunuh atas nama keadilan atas nama hukum atas nama kebenaran kuharap kau masih mau menyisihkan detik dan bertanya makna atas nama masih mau bertanya bagaimana memulangkan bumi ke tangan kehidupan kuharap kau masih mau bertanya makna sejati dan layakkah ibu perempuan desa digantung manusia telah menggantung peradapan dan kemanusiaan

esok kalau ibu digantung ibu tentu tak menangis orang miskin tak lagi punya air mata

nah, anakku kuminta kaupun tak menangis seperti ibu didewasakan duka seperti beberapa teman ibu diancam mati mereka tak menangis menatap bumi mengiris membedah ketidakadilan hingga detik penghabisan asah nurani asah hatimu bahwa manusia seharusnya tak terbunuh!